STRATEGI PENGENDALIAN WERENG BATANG COKLAT
Pada dasarnya tanaman padi memiliki potensi pangan
yang di butuhkan oleh negara ini. Mengingat tidak sedikit petani yang menanam
padi memberika potensi yang baik. Namun bagaimana dengan serangan hama yang
terjadi ? dengan adanya serangan hama maka penurunan kualitas hasil dan
produksi akan menurun. Ini bukan hal sepele untuk menjadikan suatu dampak buruk
di kemudian hari. Tanpa adanya penegahan yang di lakukan sejak mulai penanaman
maka akan pasti meluasnya serangan hama wereng yang akan terus berkembang
siklus hidupnya.
Anda harus melakukan strategi untuk mengusir WBC Wereng Batang Coklat yang memberika dampak negatif
pada tanaman padi anda, berikut adalah strategi yang mungkin bisa membantu anda
dalam mencegah dan memberantas hama wereng batang coklat.
STRATEGI PENGENDALIAN WBC
- Waspadai daerah endemis wereng coklat
- Pengamatan intensif sekurang kurangnya 1 minggu sekali
- Pengamatan dilakukan secara terprogram, sejak awal di pesemaian.
- Waspadai adanya populasi WBC di pesemaian dan tanaman muda terutama pada varietas rentan.
- Koordinasikan gerakan dan tingkatkan penyuluhan.
LANGKAH-LANGKAH PENGENDALIAN HAMA
WBC
- Pratanam.
- Perencanaan pemilihan varietas tahan.
- Pemusnahan singgang/sisa tanaman yang terserang virus yang ditularkan WBC yaitu kerdil rumput dan kerdil hampa.
- Pemusnahan bibit yang terserang virus yang ditularkan WBC.
- Fase Pesemaian
- Yang harus anda lakukan adalah melakukan pemantauan populasi WBC dan musuh alaminya, sekurang kurangnya 1 minggu sekali.
- Gunakan agens hayati apabila ditemukan populasi WBC di bawah ambang pengendalian.
- Fase Tanam Anakan maksimum
- Tanamlah varietas yang telah terbukti tahan di daerah yang bersangkutan.
- Hindarl penanaman varietas rentan maupun varietas pemicu.
- Eradikasi selektif tanaman yang terserang ringan s/d berat dan eradikasi total tanaman yang terserang berat.
- Penggunaan agens hayati.
- Penggunaan insektisida yang diijinkan apabila populasi WBC 10 ekor/rpn pada tanaman umur 40 hst atau populasi 20 ekorirpn tanaman pada tanaman berumur 40 hst. Tergantung kondisi lapangan.
- Fase Tanaman tua (Premordia s/d berbunga)
- Penggunaan agens hayati apabila populasi masih di bawah ambang pengendalian
- Penggunaan insektisida yang diijinkan dan efektif apabila populasi WBC mencapai 20 ekor rpn pada tanaman berumur 40 hst. Berdasarkan perhitungan kondisi lapangan.
MUSUH ALAMI WBC
Di daerah tropis, peranan musuh alami dalam
mengendalikan populasi WBC cukup besar. Berdasarkan cara
memangsanya, maka musuh-musuh alami ini digolongkan ke dalam berbagai
jenis antara lain :
- PREDATOR
Musuh alami dari golongan
ini memangsa WBC dengan cara berburu dan membunuhnya secara langsung Beberapa
jenis serangga yang termasuk predator WBC serta jenis wereng-wereng lain,
yaitu 1 Laba-laba harimau(Lycosa sp Serangga ini dianggap sebagai predator
utama WBC, karena setiap harinya mampu memangsa 10-20 ekor WBC dewasa
atau 15-20 nimfa.
- Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipenis,
- Kumbang Carabid(ophionea migrofasciata,
- Kumbang Coccinelid(Synharmonia octomaculata,
- PARASITTELUR
Serangga parasit hidup
dengan cara memarasit telur WBC serta jenis wereng-wereng lainnya.
Beberapa jenis parasit yang sudah diketahui antara lain Anagrus sp.
Gonatocerus sp. Dan Oligosita sp. (Gambar 11). Gambar 11 Parasit
Telur Anagnus sp. dan Telur WBC yang terparasit Anagrus sp.
- PATOGEN SERANGGA
Musuh alami dari golongan
ini membunuh WBC dengan cara penetrasi dan berkembang sakit kemudian
mematikannya secara perlahan Beberapa jenis agens cendawan yang sudah populer
dikembangkan sebagai sarana pengendalian yang bersifat ramah lingkungan antara
lain Cendawan Metarhizium sp. Yang koloninya berwarna hijau tua dan
Cendawan Beauveria bassiana yang koloninya berwarna putih.
Artikel terkait :
- Cara terbaik mengetasi hama tikus pada tanaman padi
- Mengenal hama tanaman dan pengertianya
- Membuat ramuan untuk pengendalian hama
DAFTAR PUSTAKA
- Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan 1986 Pengendalian Hama Terpadu Wereng Coklat pada Tanaman Padi.
- Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. 2003. Pedoman Rekomendasi Pengendalian hama dan Penyakit Tanaman Padi, Direktorat Bina Perlindungan Tanaman, Jakarta.
- Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. 1994. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT Padi. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman, Jakarta.
V. Faktor yang Berkontribusi dalam Peningkatan
Populasi dan Serangan WBC
Faktor
utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya populasi dan meluasnya serangan
WBC dalam beberapa tahun terakhir adalah potensi biotis WBC yang tinggi, faktor
abiotik, dan kegiatan operasional budidaya padi yang favorable
(mendukung) berkembangnya populasiWBC. Ketiga faktor tersebut dapat bekerja
secara bersama maupun secara sendiri-sendiri. Penjabaran lebih lanjut akan kami
fokuskan pada faktor terakhir.
VUTW
masih cukup banyak ditanam oleh petani, misalnya IR64, tetapi varietas lain
yang tidak tahan terhadap WBC (Non VUTW) juga banyak ditanam di berbagai sentra
produksi padi bahkan di daerah-daerah yang sudah diketahui sebagai daerah
endemik. Varietas Non VUTW ini pada umumnya adalah varietas lokal atau hibrida
yang rentan terhadap semua biotipe WBC. IR64 yang mempunyai gen ketahanan juga
mati karena serangan WBC. Sangat mungkin populasi WBC yang ada saat ini di
lapangan merupakan populasi yang telah mampu beradaptasi dan berkembang dengan
mematahkan gen ketahanan yang ada pada IR64. Kombinasi antara ketersedian
varietas peka yang dapat digunakan sebagai tempat hidup WBC berbagai biotipe
dan munculnya biotipe baru yang mematahkan VUTW yang ada saat ini memberikan
ekosistem yang kondusif bagi berkembangnya WBC.
Pada
kenyataannya insektisida masih banyak digunakan untuk pengendalian WBC maupun
hama padi lainnya. Sudah sangat dipahami bahwa penggunaan insektisida yang
tidak tepat menyebabkan berbagai dampak yang tidak diinginkan, diantaranya
resistensi dan resurjensi. Hasil penelitian sudah banyak yang mendokumentasikan
kemampuan populasi WBC untuk menjadi tahan terhadap berbagai jenis
insektisida. Insektisida sama yang dipakai secara terus menerus akan
menyebabkan munculnya populasi yang resisten (tahan) terhadap insektisida dalam
waktu yang relatif singkat. Penelitian kami di laboratorium menunjukkan bahwa
tidak lebih dari enam bulan populasi WBC sudah bisa menjadi resisten terhadap
insektisida tertentu. Resurjensi juga dipicu oleh digunakannya inseketisida
yang berspektrum luas dan digunakan tidak sesuai dengan dosis/konsentrasi
rekomendasi. Mempertimbangkan pengalaman sebelumnya dan kegiatan pertanian padi
yang kita praktekan saat ini, resistensi dan resurjensi dapat juga mempunyai
kontribusi terhadap meningkatnya populasi WBC di beberapa daerah akhir-akhir
ini.
V. Usulan Tindak Lanjut
Fakta
tentang letusan populasi dan serangan WBC pada akhir-akhir ini serta
pengalaman-pengalaman selama puluhan tahun dalam menangani hama ini memberikan
pelajaran bagi semua pihak bahwa kebijakan, pengetahuan dan ketrampilan tentang
pengendalian WBC telah tersedia dan hasilnya efektif bila dilaksanakan
secara konsekuen dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan. Berbagai
kepentingan mempengaruhi kegiatan pengendalian perlindungan tanaman, khususnya
pengendalian WBC, sehingga kebijakan PHT WBC tidak dapat dilaksanakan
sepenuhnya. Berikut kami usulkan kembali beberapa kebijakan yang perlu
dilakukan oleh Pemerintah agar WBC tidak lagi menjadi ancaman bagi kelestarian
swasembada pangan..
1.
Penerapan PHT secara benar
Solusi
terbaik adalah kembali menerapkan prinsip-prinsip PHT secara benar dan tepat
seperti diamanatkan oleh Inpres 3/1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama
Wereng Coklat pada Tanaman Padi, UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman dan PP No 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman. Agar proses
pengendalian WBC secara alami dapat berjalan secara efektif,
efisien dan ekonomis, penanaman varietas tahan WBC biotipe lokal, pergiliran
tanaman, penanaman serentak, serta pembatasan penggunaan pestisida kimia
merupakan strategi utama pengendalian WBC. Bila pestisida kimia terpaksa
dilakukan karena populasi WBC telah melampaui ambang kendali maka aplikasi
harus dilakukan secara tepat guna yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara,
tepat sasaran, tepat sasaran, tepat waktu dan tepat tempat.
2.
Pengendalian skala luas
Di
samping pengelolaan WBC dengan ecosystem based approach seperti yang
telah dipelajari petani di SLPHT juga perlu penanganan dalam skala yang
lebih luas (areawide approach). Pendekatan kedua merupakan komplemen
terhadap yang pertama dan ditujukan untuk mengurangi sumber inokulum dalam
skala yang luas. Pendekatan pertama, petani berperan lebih aktif dalam proses
pengambilan keputusan pada aras lokal, sedangkan pendekatan kedua lebih
menonjolkan peran pemerintah pusat maupun daerah sebagai fasilitator dan
koordinator pelaksanaan kegiatan pengendalian secara bersama. .
3.
Perbaikan metode deteksi dan pengamatan OPT
Teknologi
yang ada saat ini yang dirakit sejak diterbitkannya Inpres 3/1986 diyakini
masih efektif untuk mengelola WBC selama satu dengan yang lain tidak saling
bertentangan atau beresiko terhadap fungsi pengendalian alami. Kunci
keberhasilan dan perbaikan yang diperlukan terletak pada kemampuan kita dalam
mendeteksi populasi yang berkembang menuju outbreak dan mengambil
tindakan dengan menggunakan teknologi yang tepat.
Metode
sampling dan pengamatan OPT merupakan perangkat esensial dan metode yang akurat
akan memberikan informasi yang merepresentasikan fakta yang ada. Metode
pengamatan yang saat ini digunakan merupakan karya monumental beberapa dekade
yang lalu dan perlu untuk di revisit untuk menghilangkan kerancuan dalam
pemahaman terhadap pedoman yang ada, penyesuaian dengan platform
perlindungan tanaman saat ini, dan mengakodasi berbagai keperluan
domestik maupun internasional (ekspor).
Jumlah
petugas pengamat hama atau POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman)
terbatas (3268 petugas) dan akan semakin berkurang jumlahnya karena
sebagian besar sudah dan sedang memasuki masa purna tugas. Kebijakan
penambahan petugas POPT sebanyak 1253 THL (Tenaga Harian Lepas)
akhirnya tidak dapat diteruskan. Keterampilan petugas pengamat juga memegang
peran utama dalam memperoleh data yang akurat. Saat ini setiap POPT bertanggungjawab
untuk melakukan pengamatan OPT di satu atau dua wilayah kecamatan. Secara
teknis statistik wilayah pengamatan seluas itu bagi seorang POPT
tidak akan dapat menjamin akurasi dan kepercayaan data hasil
pengamatan. Dengan demikian, data yang terkumpul tentang berat dan luas
serangan OPT padi selama ini diragukan kesahihannya..
Dari
aspek pendampingan petani dan kelompok tani di tingkat desa, kami lihat
adanya ”kejanggalan struktural” antara tiga petugas pertanian lapangan
yaitu POPT, PPL, dan mantri tani. Sesama petugas fungsional tetapi luas
pewilayahannya sangat berbeda, satu POPT untuk satu atau dua kecamatan dan satu
PPL untuk satu desa. Perlu dipertimbangkan apakah tidak mungkin konsep ‘three
for one’ yang saat ini dilaksanakan diganti dengan ‘one for all’
dalam arti POPT melaksanakan tugas pengamatan POPT dan juga penyuluhan,
demikian juga PPL melakukan tugas penyuluhan dan juga melakukan pengamatan
POPT. Bila hal ini dapat dilakukan Pemerintah dapat meningkatkan kualitas
pendampingn petani serta mengurangi jalur birokrasi di tingkat bawah dan
menjamin action dapat cepat dilaksanakan.
4.
Peninjauan kebijakan registrasi pestisida padi
Perbaikan
dalam sistem registrasi pestisida sangat diperlukan, khusus untuk
registrasi pada tanaman padi. Studi tentang resurjensi WBC sudah menjadi syarat
dalam proses pendaftaran. Namun, mengingat kompleksitas mekanisme resurjensi
maka kriteria yang digunakan seperti varietas padi yang digunakan, dosis
dan konsentrasi aplikasi, serta lokasi percobaan perlu ditinjau
kembali. Hal yang sama juga diperlukan untuk studi terkait dengan resistensi.
Analisis risiko perlu diterapkan dalam proses pendaftaran baik risiko bagi hama
target, hama non target maupun kompleks musuh alami yang ada dalam ekosistem padi.
Otoritas pendaftaran dan perijinan pestisida di Kementerian Pertanian agar
mempunyai pendekatan dan prinsip yang sama dalam memberikan ijin
pendaftaran dan penggunaan pestisida dengan lembaga yang bertanggungjawab
dalam penggunaan pestisida di lapangan seperti Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen
Hortikultura, dan Ditjen Perkebunan.
5.
Pengembangan varietas baru
Pengembangan
varietas baru yang mempunyai ketahanan terhadap WBC (biotipe baru), termasuk
yang menggunakan teknologi hibrida, perlu di speed up, dan manajemen
VUTW yang telah ada perlu dilakukan untuk memperpanjang masa hidup.
6.
Monitoring biotipe dan resistensi WBC
Dari
hasil pengamatan lapangan terlihat bahwa varietas IR 64 yang mempunyai
sifat resisten terhadap WBC telah terpatahkan sifat ketahanannya, dan hal
ini mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan biotipe WBC. Kegiatan
monitoring biotipe WBC pernah dilakukan beberapa tahun diusulkan agar
diaktifkan kembali. Berdasarkan hasil mapping biotipe WBC di suatu
daerah dapat ditentukan jenis VUTW yang sebaiknya ditanam di suatu
daerah pada musim tertentu.


Silahkan bertanya
BalasHapusTest
BalasHapus