pestisida nabati

 

PESTISIDA  NABATI

Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis yang secara geografis terletak di garis equator sehingga  Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi suatu masalah dalam kegiatan bertani.

Petani di Indonesia masih bergantung pada pestisida.  Pestisida merupakan zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik).  Pestisida terdiri atas pestisida kimia (sintesis) dan pestisida nabati.  Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis yang dinilai praktis oleh para petani untuk mencegah tanamannya dari serangan hama, ternyata membawa dampak negatif yang cukup besar bagi manusia dan lingkungan. 

Salah satu teknik pengendalian OPT yang ramah lingkungan adalah dengan penggunaan pestisida yang berasal dari tumbuhan atau limbah sayuran yang lazim disebut dengan pestisida nabati.

Pestisida  alami  atau pestisida naabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya mudah hilang.    Alam sebenarnya telah menyediakan banyak sekali bahan yang dapat dijadikan pestisida alami, tentunya dengan tidak merusak lingkungan. 

Pestisida nabati bersifat mudah terdegradasi di alam (Bio-degredable), sehingga residunya pada tanaman dan lingkungan tidak signifikan.  Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil, termasuk memiliki sejumlah tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pestisida nabati, baik yang dapat langsung digunakan atau dengan ekstraksi sederhana dengan air, ekstraksi dengan pelarut organik lainnya ataupun dengan cara penyulingan, tergantung tujuan formula tersebut dibuat.

Contoh pembuatan insektisida nabati diuraikan sebagai berikut  : Tahapan pembuatan insektisida nabati yaitu   2 kg daun sirsak dirajang kemudian ditumbuk halus, tambahkan air lalu disaring, setelah itu tambahkan 1 liter air cucian beras, ¼ liter molases, air perasan tembakau, EM-4.  Larutan diaduk rata dan disimpan dalam wadah tertutup.  Diamkan selama 1 minggu, setiap hari dibuka untuk diaduk.

Contoh pembuatan fungisida nabati diuraikan sebagai berikut : Tahapan pembuatan fungisida nabati yaitu  2 kg lengkuas dan sereh dirajang, lalu dihaluskan, kemudian tambahkan air secukupnya, lalu diperas.  Air perasan dimasukkan dalam wadah tertutup, kemudian ditambahkan air cucian beras, air tembakau, molases dan EM-4, aduk rata.  Larutan disimpan dalam wadah tertutup rapat.  Diamkan selama 1 minggu, setiap hari dibuka untuk diaduk.

Pemanfaatan pestisida nabati diharapkan dapat berkelanjutan di tingkat petani.  Para petani diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan pengendali OPT dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar mereka, sehingga pada akhirnya diharapkan petani mampu swasembada pestisda.

 

 

Pestisida nabati bersifat mudah terdegradasi di alam (Bio-degredable), sehingga residunya pada tanaman dan lingkungan tidak signifikan.  Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil, termasuk memiliki sejumlah tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pestisida nabati, baik yang dapat langsung digunakan atau dengan ekstraksi sederhana dengan air, ekstraksi dengan pelarut organik lainnya ataupun dengan cara penyulingan, tergantung tujuan formula tersebut dibuat.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Posting Komentar